Kabarphi
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi
No Result
View All Result
Kabarphi
No Result
View All Result
Home Editorial

Demokrasi di Persimpangan, Bumi dalam Bahaya, Partai Hijau Serukan Gerakan Ekososialis Hadapi Rezim Ekstraktif

Membangun Demokrasi Ekologis di Tengah Krisis Rezim Ekstraktif

AdminWeb by AdminWeb
November 2, 2025
in Editorial
Reading Time: 6 mins read
0
Demokrasi di Persimpangan, Bumi dalam Bahaya, Partai Hijau Serukan Gerakan Ekososialis Hadapi Rezim Ekstraktif
905
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta – Tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran menjadi cermin paling jernih dari arah baru politik Indonesia, antara nostalgia otoritarian dan modernisasi yang berpihak pada modal. Di balik gegap-gempita slogan “kedaulatan pangan” dan “pertahanan nasional”, terselip pola lama, militerisasi ruang sipil, konsolidasi oligarki, dan eksploitasi lingkungan atas nama pembangunan. Pertemuan internal Partai Hijau Indonesia baru-baru ini menggambarkan betapa mendesaknya refleksi dan reposisi gerakan politik alternatif di tengah pusaran kekuasaan yang semakin pekat.

Demokrasi yang Mengecil, Kekuasaan yang Membesar

Selanjutnya dalam tulisan ini PHI menyoroti munculnya “korporatisme militer” pola baru di mana militer, BUMN strategis, dan korporasi besar saling mengunci dalam proyek pangan, energi, dan infrastruktur. Proyek-proyek seperti Food Estate 20 juta hektare dan ekspansi perusahaan sawit dinilai sebagai bentuk baru kolonialisme domestik yang menghancurkan hutan dan mengabaikan masyarakat adat. Data Nusantara Atlas (2024) menunjukkan ekspansi sawit industri di Indonesia meningkat hingga 128 ribu hektar dengan deforestasi mencapai 34 ribu hektar  naik 59 persen dibanding tahun sebelumnya. “Bumi sedang sakit, tapi rezim masih menambang dan menebang,” tulis PHI dalam makalahnya.

Rezim hari ini memperlihatkan kecenderungan yang kian terbuka dalam menyingkirkan kritik. Penangkapan aktivis, pembubaran aksi damai, hingga kriminalisasi jurnalis dan pegiat lingkungan bukan lagi peristiwa terpisah  tetapi bagian dari pola sistematis penyempitan ruang demokrasi. Lebih dari seribu aktivis dilaporkan menghadapi intimidasi sejak awal 2024, terutama mereka yang menentang proyek food estate, pertambangan nikel, dan ekspansi sawit. Ironisnya, pemerintah justru menyebut ini sebagai “stabilitas nasional”.

Di tengah situasi itu, militer dan aparat keamanan kian aktif mengambil alih fungsi sipil, dari proyek pangan hingga pengawasan digital. Demokrasi kita kehilangan napas, sementara logika komando menggantikan partisipasi rakyat. Partai Hijau menilai, inilah bentuk baru dari eco-militerisme: ketika kekuasaan bersenjata memanipulasi wacana lingkungan untuk menjustifikasi kontrol terhadap sumber daya dan manusia.

Ekonomi Konsumsi, Negara Pajak, dan Krisis Kemandirian

Secara ekonomi, Indonesia tampak stabil  namun fondasinya rapuh. Ketergantungan pada pajak konsumsi meningkat, sementara produktivitas sektor riil stagnan. Prabowo berupaya menyeimbangkan diri di antara dua kutub global: blok liberal (Barat) dan blok Selatan (Tiongkok–BRICS). Tapi keseimbangan ini tak pernah netral; ia selalu berpihak pada yang punya modal.

Sebagaimana diungkapkan dalam diskusi internal Partai Hijau, ekonomi kita kini hidup dari konsumsi rakyat, bukan dari kemandirian produksi. Negara menambal defisit dengan menaikkan tarif, bukan meningkatkan daya tahan masyarakat. Akibatnya, jurang ketimpangan melebar   1% orang terkaya menguasai hampir 50% aset nasional (data Credit Suisse, 2024). Inilah wajah kapitalisme paternalistik ala Indonesia: rakyat diseru untuk bersyukur, sementara oligarki menulis ulang makna kedaulatan.

Ekologi di Tepi Jurang

Proyek food estate yang konon untuk kedaulatan pangan, justru membuka jutaan hektare hutan dan lahan gambut. Rencana pembukaan 20 juta hektare untuk energi hijau adalah paradoks terbesar abad ini  “hijau” hanya di atas kertas, tapi menghitam di tanah dan udara. Partai Hijau menilai kebijakan ini sebagai bentuk green extractivism: pembenaran lingkungan untuk melanggengkan eksploitasi. Ketika sawit disebut “biofuel” dan tambang nikel disebut “transisi energi”, kita seolah melupakan bahwa tanah, air, dan udara tak pernah pulih dari luka kolonial yang sama hanya kini dijalankan oleh wajah-wajah baru dari ibu kota.

Di tengah situasi ini, pertemuan Partai Hijau Indonesia menjadi ruang penting untuk membicarakan arah gerakan hijau yang tidak sekadar moral, tetapi juga politis dan strategis. Diskusi yang melibatkan kader dari berbagai provinsi  dari Ternate, Bengkulu, hingga Papua  menyoroti betapa pentingnya organisasi yang berakar dan terkoordinasi.

Rika, salah satu penggerak legalisasi partai, melaporkan bahwa saat ini sudah ada sembilan provinsi dengan struktur aktif. Upaya ekspansi terus dilakukan, termasuk konsolidasi dengan jaringan masyarakat adat dan organisasi buruh. “Legalitas adalah langkah awal, tapi yang lebih penting adalah membangun kesadaran dan kepercayaan di basis,” ujarnya.

Sementara itu, Irwansyah menegaskan perlunya tesis politik yang tegas terhadap oligarki. “Kita tidak bisa terus jadi pengamat hijau. Kita harus punya posisi ideologis yang jelas terhadap demokrasi, terhadap kapitalisme, terhadap bumi,” katanya.

Mencari Jalan Ekonomi Hijau yang Berkeadilan

Diskusi juga menyinggung perlunya model ekonomi tandingan. Prathiwi memperkenalkan konsep nilai surplus dan kritik terhadap ekonomi berbasis pertumbuhan, sementara Uli menambahkan pentingnya model ekonomi pribumi yang berpihak pada komunitas. “Ekonomi hijau bukan sekadar mengganti batu bara dengan tenaga surya, tapi mengganti logika eksploitasi dengan solidaritas dan keberlanjutan,” ujarnya.

Partai Hijau berencana menyusun proposal model ekonomi hijau nasional  sebuah platform politik berbasis data dan pengalaman lokal. Ini bukan utopia, tapi upaya konkret menggeser cara pandang: dari pertumbuhan ke keseimbangan, dari keuntungan ke keberlanjutan.

Sebagai tindak lanjut, Partai Hijau Indonesia merumuskan sejumlah langkah strategis:

  • Menyusun tesis politik nasional tentang situasi Indonesia kontemporer.
  • Membuka dokumen kolaboratif daring untuk menghimpun pandangan kader di seluruh daerah.

  • Mempercepat legitimasi hukum dan struktur partai di seluruh provinsi.

  • Menyelenggarakan Konferensi Konsolidasi Nasional pada awal 2025 untuk menetapkan arah politik dan strategi menuju Pemilu 2029.

Di tengah kebisuan partai-partai arus utama yang sibuk berebut kursi dan konsesi, Partai Hijau menegaskan posisi sebagai kekuatan moral dan politik yang berpihak pada bumi dan rakyat.

Editorial ini tidak lahir dari romantisme, tetapi dari kenyataan bahwa bumi, rakyat, dan demokrasi kini berada dalam satu garis luka yang sama. Hijau bukan sekadar warna alam  ia adalah sikap politik: menolak dominasi modal atas hidup, menolak militerisasi atas ruang sipil, dan menolak keserakahan yang dibungkus dalam nama pembangunan.

Partai Hijau Indonesia percaya, di tengah kegelapan kekuasaan, masih ada ruang bagi benih perlawanan. Dari kampung ke kota, dari laut ke pegunungan, dari petani ke mahasiswa  hijau akan terus tumbuh. Bukan untuk sekadar menjadi alternatif, tapi untuk menjadi masa depan itu sendiri. (Editorial kabarphi.com)

AdminWeb

AdminWeb

Kabar PHI adalah portal berita yang berfokus pada kabar-kabar terbaru di Indonesia, dengan tujuan menjadi sumber informasi utama bagi para pekerja, pengusaha, praktisi hukum, dan masyarakat umum. Kami berdedikasi untuk menyajikan berita yang akurat, analisis yang mendalam, serta panduan praktis yang dapat membantu masyarakat mendapatkan kabar terbaru.

Related Posts

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH  MELALUI DPRD
Editorial

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MELALUI DPRD

January 25, 2026
Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara
Editorial

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

November 9, 2025
Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim
Editorial

Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim

October 8, 2025
Next Post
Mengurai Tingginya Biaya Politik di Indonesia: Dominasi Elit dan Ketimpangan Representasi

Mengurai Tingginya Biaya Politik di Indonesia: Dominasi Elit dan Ketimpangan Representasi

Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

Rekomendasi

Pemisahan Pemilu dan Pilkada Dinilai Untungkan Partai Alternatif

Pemisahan Pemilu dan Pilkada Dinilai Untungkan Partai Alternatif

4 months ago
Lebih Dari Raising Awareness

Lebih Dari Raising Awareness

1 year ago
Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

2 months ago
Mengurai Tingginya Biaya Politik di Indonesia: Dominasi Elit dan Ketimpangan Representasi

Mengurai Tingginya Biaya Politik di Indonesia: Dominasi Elit dan Ketimpangan Representasi

3 months ago

Kategori

  • Editorial
  • Ekonomi
  • Esai
  • Fenomena
  • Kabar Daerah
  • Kabar Nasional
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Opini
  • Perempuan
  • Politik
  • Resensi
  • Wacana

Pencarian Berdasarkan Tag

Ekososialisme konde.co Partai Buruh Partai Hijau Indonesia PHI PHI Sulsel

Berita Populer

SELAMATKAN PESISIR PANTAI KAROSSA DAN MUARA SUNGAI SILAJA: RAKYAT BUKAN KAMBING HITAM
Esai

SELAMATKAN PESISIR PANTAI KAROSSA DAN MUARA SUNGAI SILAJA: RAKYAT BUKAN KAMBING HITAM

by AdminWeb
April 7, 2025
0

kabarphi.com -  Aktifitas produksi pertambangan itu telah  merobek, merusak, dan mengeruk kekayaan yang berasal dari tubuh bumi....

Program Ekososialis: Gagasan Awal

Program Ekososialis: Gagasan Awal

April 7, 2025
Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

April 29, 2025
Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

November 9, 2025
Melawan untuk Merebut: Kerjasama Politik antara Komite Politik Nasional dan Partai Hijau indonesia

Melawan untuk Merebut: Kerjasama Politik antara Komite Politik Nasional dan Partai Hijau indonesia

April 29, 2025

Berita Terbaru

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA MENOLAK BOARD OF PEACE

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MELALUI DPRD

Diskusi Buku “Membaca Bumi”, Partai Hijau Dorong Ekososialisme Jadi Gerakan Politik

Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

Bencana Ekologis Sumatera: Pembiaran Negara yang Membunuh Rakyatnya

Kabarphi

Selamat datang di kabarphi.com, portal informasi yang bisa kamu gunakan untuk mencari tahu kabar paling baru dari Partai Hijau Indonesia.

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2024 Kabar PHI. All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi

© 2024 Kabar PHI . All rights reserved