JAKARTA – Partai Hijau Indonesia (PHI) menegaskan bahwa perjuangan politik tidak cukup hanya berorientasi pada perubahan kebijakan dan keadilan ekologis, tetapi juga harus dimulai dari bagaimana organisasi memperlakukan orang-orang yang bekerja di dalamnya. Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi rutin PHI bertajuk Collective Care yang digelar pada Juni 2026.
Dalam diskusi tersebut, para peserta merefleksikan tantangan yang sering dihadapi organisasi gerakan, mulai dari kelelahan aktivis (burnout), kesenjangan antargenerasi, hingga budaya organisasi yang terkadang tanpa sadar mereproduksi ketimpangan yang selama ini justru diperjuangkan untuk dihapus.
Diskusi diawali dengan sebuah pengakuan bahwa tidak sedikit organisasi yang memperjuangkan demokrasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan, namun belum sepenuhnya mampu menciptakan ruang yang sehat bagi anggotanya sendiri.
“Gerakan yang ingin mengubah dunia harus dimulai dari cara kita memperlakukan orang di sebelah kita,” menjadi salah satu pesan utama yang mengemuka dalam forum tersebut.

Membangun Jembatan Antar Generasi
Forum juga menyoroti dinamika antar generasi di tubuh PHI. Organisasi yang lahir dari perjalanan panjang gerakan lingkungan itu kini dihuni oleh kader dengan latar pengalaman yang sangat beragam, mulai dari aktivis senior yang telah terlibat sejak masa persiapan organisasi politik hijau hingga anggota muda yang baru bergabung beberapa tahun terakhir.
Perbedaan pengalaman tersebut dinilai kerap melahirkan prasangka. Generasi senior terkadang menganggap kader muda kurang militan, sementara kader muda merasa dibebani persoalan lama yang bukan mereka ciptakan. Menurut peserta diskusi, kondisi tersebut muncul karena minimnya ruang dialog yang memungkinkan setiap anggota saling memahami situasi hidup masing-masing.
Burnout Aktivis Bukan Tanda Lemah
Diskusi juga mengkritisi budaya lama dalam gerakan sosial yang memandang aktivis ideal sebagai sosok yang harus selalu kuat, siap bekerja tanpa mengenal batas waktu, bahkan rela mengorbankan kebutuhan pribadi demi organisasi.
Pandangan tersebut dinilai berpotensi melahirkan kelelahan berkepanjangan dan justru membuat organisasi kehilangan orang-orang yang paling berdedikasi.
Peserta menekankan bahwa collective care bukan berarti melemahkan semangat perjuangan, melainkan memastikan perjuangan dapat berlangsung secara berkelanjutan dengan menjaga kesehatan fisik, mental, dan sosial para penggeraknya.
Kerja Perawatan Harus Diakui
Selain itu, PHI juga mengangkat pentingnya pengakuan terhadap kerja-kerja perawatan (care work) yang selama ini sering tidak terlihat dalam organisasi.
Mulai dari menyiapkan ruang rapat, membuat notulensi, mencuci peralatan, hingga membereskan sekretariat dinilai sebagai bagian penting dari keberlangsungan organisasi. Selama ini pekerjaan tersebut sering kali dilakukan oleh orang yang sama dan jarang mendapat apresiasi.
Menurut hasil diskusi, pengakuan terhadap kerja perawatan merupakan bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih setara dan konsisten dengan nilai-nilai keadilan yang diperjuangkan di ruang publik.
Pendekatan Restoratif dalam Organisasi
Forum juga membahas cara organisasi menghadapi anggota yang melakukan kesalahan. Peserta menilai budaya menghukum atau mengucilkan anggota tanpa proses pembelajaran sering kali tidak menyelesaikan akar persoalan.
Diskusi mendorong pendekatan yang lebih restoratif, yakni tetap tegas terhadap tindakan yang melanggar nilai organisasi, namun tetap membuka ruang dialog, refleksi, dan perubahan selama tidak berkaitan dengan tindakan yang tidak dapat ditoleransi seperti kekerasan.
Pendekatan tersebut dipandang penting agar organisasi tidak hanya menjadi ruang perjuangan, tetapi juga ruang pembelajaran dan pertumbuhan bersama.
Merawat Gerakan agar Bertahan Lama
Sebagai penutup, peserta mengingatkan bahwa praktik collective care sebenarnya bukan konsep baru. Nilai tersebut telah lama hidup dalam tradisi gotong royong masyarakat, komunitas adat, hingga gerakan buruh yang saling menopang ketika menghadapi situasi sulit.
PHI menilai semangat tersebut perlu terus dihidupkan kembali sebagai bagian dari budaya organisasi.
Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa politik hijau tidak hanya berbicara mengenai penyelamatan lingkungan dan demokrasi, tetapi juga tentang membangun organisasi yang mampu merawat manusia di dalamnya.
“Perawatan adalah perlawanan. Dan perlawanan yang tidak merawat dirinya sendiri, cepat atau lambat, akan kehabisan napas,” demikian kesimpulan yang mengakhiri diskusi rutin PHI tentang Collective Care bulan Juni 2026.
Reporter: Roy Abrari



