JAKARTA — Partai Hijau Indonesia (PHI) memperingati Hari Lahir ke-14 pada 5 Juni 2026 melalui rangkaian kegiatan pendidikan politik, diskusi lingkungan, dan refleksi ideologi yang berlangsung di Sekretariat Partai Hijau Indonesia.
Peringatan tahun ini mengusung semangat memperkuat gerakan politik hijau di tengah berbagai tantangan krisis ekologis dan kemunduran demokrasi yang masih membayangi Indonesia. Acara dihadiri anggota, simpatisan, dan jejaring masyarakat sipil yang selama ini menjadi bagian dari perjuangan politik hijau.
Rangkaian kegiatan diawali dengan lokakarya zine dan diskusi buku bertajuk “Membaca Papua Hari Ini, Membayangkan Papua 10 Tahun Lagi” yang difasilitasi Komunitas Membaca Papua Jakarta. Forum tersebut mengajak peserta memahami berbagai persoalan ekologis yang dihadapi Papua sekaligus membayangkan masa depan yang lebih adil bagi masyarakat adat dan lingkungan hidup di tanah Papua.
Pada malam hari, peringatan dilanjutkan dengan diskusi bertema “Gerakan Lingkungan di Indonesia: Tinjauan Historis” yang dimoderatori Ahmad Fanini Rosyidi dan menghadirkan aktivis lingkungan Khalisah Khalid sebagai narasumber utama.
Diskusi mengulas perjalanan gerakan lingkungan dari tingkat global hingga perkembangannya di Indonesia. Salah satu poin penting yang dibahas adalah bagaimana posisi kritis dan independen gerakan lingkungan terhadap kekuasaan menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi perjuangan keadilan ekologis.
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang terus terjadi, mulai dari krisis iklim, konflik sumber daya alam, hingga menyempitnya ruang partisipasi publik, PHI dinilai perlu terus hadir sebagai wadah politik yang mampu menangkap keresahan masyarakat dan menawarkan alternatif perubahan.
Momentum hari lahir juga dimanfaatkan untuk melakukan refleksi organisasi. Sekretaris Umum PHI, Rika Febriyani, memaparkan perkembangan partai sepanjang periode 2024–2026, termasuk penguatan struktur organisasi di berbagai daerah, perluasan kerja sama dengan jaringan masyarakat sipil, serta pelaksanaan berbagai program pendidikan politik hijau.
Refleksi tersebut sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai bidang kerja yang masih perlu diperkuat agar partai semakin responsif terhadap persoalan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan refleksi ideologi dan platform hijau yang dipimpin Ketua Umum PHI, Nur Rosyid Murtadho. Dalam sesi tersebut, ia menegaskan pentingnya menjaga konsistensi ideologis sebagai fondasi perjuangan politik hijau di Indonesia.
Menurutnya, pendidikan politik hijau dan program-program berbasis komunitas di tingkat lokal harus terus diperluas sebagai upaya membangun alternatif politik yang berpihak pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Peringatan Hari Lahir PHI ke-14 bukan sekadar perayaan perjalanan organisasi, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap transformasi politik hijau yang berkeadilan. Di tengah berbagai krisis yang mengancam hak dan ruang hidup masyarakat, PHI menegaskan tekadnya untuk terus memperjuangkan Indonesia yang bersih, adil, demokratis, dan lestari.
Reporter: Eternal Keyzhyeea Anggun










