Kabarphi
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi
No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi
No Result
View All Result
Kabarphi
No Result
View All Result
Home Editorial

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

Sejarah bangsa ini kembali diuji oleh watak kekuasaan yang enggan belajar.

AdminWeb by AdminWeb
November 9, 2025
in Editorial
Reading Time: 4 mins read
0
Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara
889
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

kabarphi.com, editorial – Rencana pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan hanya penghinaan terhadap korban pelanggaran HAM dan kejahatan kemanusiaan, tapi juga tanda bahwa negara sedang berkhianat pada reformasi, pada kebenaran sejarah, dan pada nurani rakyatnya sendiri.

kita semua harus sepakat bahwa Soeharto bukan pahlawan. Ia adalah diktator yang menindas, perampas tanah rakyat, dan simbol korupsi terbesar dalam sejarah republik ini. Selama 32 tahun kekuasaannya, ia menanamkan sistem politik yang membungkam kritik, memperkaya kroni, dan merampas kebebasan atas nama “stabilitas nasional.” Kini, di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, kita menyaksikan bayangan itu kembali berjalan—dalam bentuk yang lebih halus tapi sama bahayanya.

Orde Baru, Hidup Kembali dengan Wajah Baru

Pemerintahan hari ini tengah meniru pola konsolidasi kekuasaan ala Orde Baru. Koalisi gemuk di parlemen menghapus oposisi, perwira militer kembali mengisi jabatan sipil, dan ruang kebebasan publik menyempit atas nama “stabilitas”. Freedom House, The Economist Intelligence Unit, dan V-Dem Institute semuanya sepakat, demokrasi Indonesia sedang mundur. Rakyat seolah masih berdaulat lewat pemilu, tapi sesungguhnya kedaulatan itu telah dipreteli melalui dominasi oligarki ekonomi dan militerisme politik.

Soeharto dulu menjanjikan “pembangunan nasional” sebagai kompensasi atas pembungkaman politik.

Kini, jargon “Indonesia Emas 2045” digunakan untuk tujuan yang sama sebuah janji kemakmuran semu yang menutupi krisis kebebasan sipil, perampasan tanah, dan ketimpangan ekonomi yang kian menganga. Bagaimana mungkin seorang yang secara resmi dicatat Transparency International sebagai presiden paling korup di dunia bisa diangkat menjadi pahlawan? Soeharto dan keluarga Cendana merampas kekayaan negara hingga 35 miliar dolar AS setara lebih dari Rp500 triliun hari ini. Kekayaan itu bukan hasil kerja keras atau inovasi, melainkan hasil monopoli, penyalahgunaan kekuasaan, dan eksploitasi sumber daya publik. Hingga hari ini, warisan oligarkinya masih hidup: dari konglomerat tambang, perkebunan, hingga media besar yang mengendalikan narasi publik. Jika Soeharto dipuja, maka korupsi dilegitimasi, dan oligarki mendapatkan pembenaran moral untuk terus menguasai sumber daya bangsa.

Kekerasan yang Tak Pernah Usai

Soeharto membangun rezimnya dengan darah dan ketakutan. Tragedi 1965-1966 menewaskan lebih dari 500 ribu jiwa, ribuan orang di Aceh, Papua, Tanjung Priok, dan Kedung Ombo kehilangan keluarga, tanah, dan kebebasan. Namun hingga kini, tidak satu pun pelaku diadili. Yang ada justru pembalikan sejarah di mana pelaku dijadikan pahlawan dan korban dilupakan.

Warisan kekerasan itu masih berlanjut. Pemerintah hari ini terus menggunakan pendekatan militeristik untuk menyelesaikan konflik sosial, menempatkan aparat bersenjata di jabatan sipil, dan membungkam kritik dengan pasal-pasal karet UU ITE. Reformasi yang dulu menuntut demiliterisasi justru kini melahirkan militerisasi baru dengan seragam berbeda, tapi logika kekuasaan yang sama.

Kita sedang hidup dalam masa di mana nasionalisme dijadikan alat untuk menekan nalar kritis. Pendidikan sejarah dirombak agar generasi muda melupakan tragedi masa lalu. Siswa diajarkan untuk bangga, tapi tidak untuk bertanya. Rakyat diajak mencintai negara, tapi tidak diberi ruang untuk mengoreksinya. Inilah nasionalisme seremonial patriotisme tanpa kesadaran. Ia melahirkan warga yang patuh tapi tidak berdaya, bangga tapi tidak tahu mengapa. Sementara mereka yang berani bersuara dianggap ancaman bagi stabilitas, sebagaimana dulu di masa Orde Baru.

Peringatan Bagi Sejarah dan Generasi

Memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto berarti menghapus batas moral bangsa. Artinya, negara rela menukar kebenaran dengan stabilitas semu, keadilan dengan nostalgia kekuasaan. Jika Soeharto bisa disebut pahlawan, maka siapa lagi yang akan dimuliakan berikutnya? Apakah koruptor masa kini akan kita kenang sebagai “penyelamat ekonomi”? Apakah pelaku pelanggaran HAM akan diingat sebagai “pembela bangsa”?

Bangsa ini tidak kekurangan pahlawan sejati dari petani yang melawan perampasan tanah, jurnalis yang menulis kebenaran di bawah ancaman, hingga mahasiswa yang menolak tunduk pada kekuasaan. Merekalah yang layak disebut pahlawan, bukan diktator yang membungkam rakyat dan menjarah negeri.

Tegakkan Kebenaran, Lawan Glorifikasi Diktator

Kita tidak akan diam, kebenaran tidak bisa dikubur di bawah gelar kehormatan, Partai Hijau Indonesia bersama seluruh elemen rakyat menyerukan, Tolak Soeharto Jadi Pahlawan! Buka kembali kasus pelanggaran HAM masa Orde Baru! Hentikan militerisasi birokrasi dan oligarki ekonomi!

Soeharto bukan pahlawan. Ia adalah pengingat bahwa kekuasaan tanpa moral akan selalu mencari cara untuk membenarkan dirinya. Tugas kita adalah memastikan sejarah tidak dikhianati bahwa generasi baru Indonesia tumbuh dengan kesadaran, bukan dengan kebohongan. Untuk Bumi, Untuk Rakyat, Untuk Kebenaran Sejarah.

#SoehartoBukanPahlawan #TolakSoehartoJadiPahlawan #ReformasiBelumUsai #DemokrasiHijau

 

Tim Editorial Kabar PHI

  1. Roy Abrari
  2. Rika
  3. Erwin
AdminWeb

AdminWeb

Kabar PHI adalah portal berita yang berfokus pada kabar-kabar terbaru di Indonesia, dengan tujuan menjadi sumber informasi utama bagi para pekerja, pengusaha, praktisi hukum, dan masyarakat umum. Kami berdedikasi untuk menyajikan berita yang akurat, analisis yang mendalam, serta panduan praktis yang dapat membantu masyarakat mendapatkan kabar terbaru.

Related Posts

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH  MELALUI DPRD
Editorial

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MELALUI DPRD

January 25, 2026
Demokrasi di Persimpangan, Bumi dalam Bahaya, Partai Hijau Serukan Gerakan Ekososialis Hadapi Rezim Ekstraktif
Editorial

Demokrasi di Persimpangan, Bumi dalam Bahaya, Partai Hijau Serukan Gerakan Ekososialis Hadapi Rezim Ekstraktif

November 2, 2025
Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim
Editorial

Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim

October 8, 2025
Next Post
Bencana Ekologis di Sumatera: PHI Serukan Solidaritas Warga dan Tuntut Tanggung Jawab Pemerintahan Prabowo – Gibran!

Bencana Ekologis di Sumatera: PHI Serukan Solidaritas Warga dan Tuntut Tanggung Jawab Pemerintahan Prabowo - Gibran!

Bencana Ekologis Sumatera: Pembiaran Negara yang Membunuh Rakyatnya

Bencana Ekologis Sumatera: Pembiaran Negara yang Membunuh Rakyatnya

Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

Rekomendasi

Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim

Enam Dekade Setelah 1965 Pola Lama dalam Wajah Baru Rezim

4 months ago
Indonesia Gelap: Jalan menuju Indonesia Baru

Indonesia Gelap: Jalan menuju Indonesia Baru

9 months ago
Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

10 months ago
PHI Tolak Food Estate Merauke: Ancaman Deforestasi dan Krisis Ekologis

PHI Tolak Food Estate Merauke: Ancaman Deforestasi dan Krisis Ekologis

11 months ago

Kategori

  • Editorial
  • Ekonomi
  • Esai
  • Fenomena
  • Kabar Daerah
  • Kabar Nasional
  • Komunitas
  • Lingkungan
  • Opini
  • Perempuan
  • Politik
  • Resensi
  • Wacana

Pencarian Berdasarkan Tag

Ekososialisme konde.co Partai Buruh Partai Hijau Indonesia PHI PHI Sulsel

Berita Populer

SELAMATKAN PESISIR PANTAI KAROSSA DAN MUARA SUNGAI SILAJA: RAKYAT BUKAN KAMBING HITAM
Esai

SELAMATKAN PESISIR PANTAI KAROSSA DAN MUARA SUNGAI SILAJA: RAKYAT BUKAN KAMBING HITAM

by AdminWeb
April 7, 2025
0

kabarphi.com -  Aktifitas produksi pertambangan itu telah  merobek, merusak, dan mengeruk kekayaan yang berasal dari tubuh bumi....

Program Ekososialis: Gagasan Awal

Program Ekososialis: Gagasan Awal

April 7, 2025
Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

Partai Hijau Indonesia Desak Pencabutan Izin Tambang PT. ASR di Pesisir Karossa dan Silaja

April 29, 2025
Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

Negara Sedang Berkhianat, Soeharto Dipuja, Demokrasi Dipenjara

November 9, 2025
Melawan untuk Merebut: Kerjasama Politik antara Komite Politik Nasional dan Partai Hijau indonesia

Melawan untuk Merebut: Kerjasama Politik antara Komite Politik Nasional dan Partai Hijau indonesia

April 29, 2025

Berita Terbaru

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA MENOLAK BOARD OF PEACE

PERNYATAAN SIKAP PARTAI HIJAU INDONESIA TERHADAP WACANA PEMILIHAN KEPALA DAERAH MELALUI DPRD

Diskusi Buku “Membaca Bumi”, Partai Hijau Dorong Ekososialisme Jadi Gerakan Politik

Partai Hijau Tetapkan Tiga Aktivis Muda sebagai Karteker DPW PHI Sulawesi Tengah

Bencana Ekologis Sumatera: Pembiaran Negara yang Membunuh Rakyatnya

Kabarphi

Selamat datang di kabarphi.com, portal informasi yang bisa kamu gunakan untuk mencari tahu kabar paling baru dari Partai Hijau Indonesia.

Informasi

  • Tentang Kami
  • Redaksi

© 2024 Kabar PHI. All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
  • Kabar Nasional
  • Kabar Daerah
  • Wacana
    • Esai
    • Analisis
  • Opini
  • Fenomena
    • Ekonomi
    • Politik
    • Komunitas
    • Lingkungan
    • Perempuan
  • Editorial
  • Resensi

© 2024 Kabar PHI . All rights reserved