JAKARTA — Partai Hijau Indonesia (PHI) menggelar diskusi buku Membaca Bumi suntingan Gerry Van Klinken di kantor Celios, Menteng, Jakarta Pusat, beberap awaktu lalu Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam ini diikuti sekitar 30 peserta dari kalangan anggota PHI, simpatisan, dan masyarakat umum.
Diskusi diawali dengan doa bersama untuk korban bencana ekologis di Sumatera, sebelum dilanjutkan dengan pemaparan dan dialog yang dimoderatori Fauzi. Sejumlah panelis hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Gerry Van Klinken selaku editor buku, Fathun Karib sebagai salah satu penulis, Rika mewakili PHI, serta Umi dari Forum Perempuan Hijau.
Dalam pemaparannya, Gerry Van Klinken menekankan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipahami sebagai peristiwa kebetulan, melainkan sebagai krisis struktural yang lahir dari logika pembangunan dan industrialisasi yang masih mendominasi politik Indonesia. Ia menilai, PHI menjadi salah satu sedikit kekuatan politik yang secara konsisten membawa isu lingkungan sebagai agenda politik utama.

Gerry memperkenalkan konsep ekososialisme sebagai perpaduan antara kesetiakawanan sosial dan keberlanjutan ekologis. Menurutnya, ekososialisme merupakan bentuk konvergensi perlawanan antikapitalisme dari bawah yang mencakup berbagai aliran pemikiran, mulai dari Marxisme, feminisme, indigenisme, hingga dekolonisasi dan spiritualitas.
“Ekososialisme bukan sekadar agenda reformis, tetapi juga menawarkan imajinasi perubahan yang lebih radikal dalam menghadapi krisis ekologis global,” ujarnya.
Sementara itu, Fathun Karib memaparkan relasi antara krisis sosio-ekologis dengan komoditas, biografi, dan tubuh manusia. Ia mengajak peserta melacak rantai pasok komoditas ekstraktif, termasuk keterkaitannya dengan bencana ekologis di Sumatera, seperti yang tercermin dalam kasus industri pulp dan kehutanan.

Menurut Karib, tubuh manusia menjadi situs penting untuk membaca dampak kapitalisme global, di mana perubahan iklim tidak hanya dirasakan secara material, tetapi juga secara afektif berupa stres dan penderitaan psikologis. Namun, tubuh juga menyimpan potensi perlawanan untuk membongkar krisis tersebut.
Menanggapi diskusi, Rika, Sekretaris PHI Nasional menyoroti tantangan menerjemahkan gagasan ekososialisme ke dalam praktik politik di tengah sistem elektoral Indonesia. Ia menegaskan pentingnya membangun strategi politik yang tetap berpijak pada nilai keadilan ekologis tanpa terjebak pada pragmatisme.
Sementara itu, Umi dari Forum Perempuan Hijau mengkritisi minimnya representasi penulis perempuan dalam buku Membaca Bumi. Meski demikian, ia menilai diskusi tersebut penting untuk memperluas pemahaman publik, terutama agar gagasan ekososialisme dapat diakses oleh masyarakat luas dan tidak berhenti di ruang akademik.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta menyoroti pentingnya membongkar warisan kolonial dalam tata kelola negara, memperkuat solidaritas lintas komunitas terdampak, serta membangun politik afeksi sebagai alat advokasi dalam konflik lingkungan.
Diskusi ditutup dengan refleksi Gerry Van Klinken berdasarkan pengalamannya di Partai Hijau Australia. Ia mendorong agar gagasan ekososialisme dibumikan melalui percakapan sehari-hari di ruang publik, pasar, dan komunitas warga.
“Perubahan besar selalu dimulai dari percakapan kecil yang terus dirawat,” pungkasnya.












